Postingan

Selamat Tahun Baru.

Gambar
mungkin yang paling mengagumkan darimu tahun ini hanya caramu melawan layu, caramu melawan mati. mungkin penyair itu benar bahwa Tuhan tidak memberimu bunga yang indah di tahun ini, tapi akar yang kuat supaya tidak mudah tumbang. mungkin juga mereka benar bahwa kamu belum bisa jadi apa-apa, belum bisa jadi kebanggaan— tapi, siapa yang peduli? memangnya mereka siapa? siapa juga yang ingin memuaskan ego manusia rakus pengakuan—manusia yang menuhankan pencapaian? 💗💗💗 selamat tahun baru, semoga yang layu bisa tumbuh lagi—yang mati semoga dapat tempat terbaik. semoga yang sudah tumbuh bisa terjaga—dengan baik!.

untukmu, Sunflower-girl

Gambar
To a beautiful soul who born in July 22nd, this letter belongs to you.. Selamat pagi!  Tidak perlu ada apa kabar karena kurasa hari ini kamu terlampau baik. Rencananya, aku ingin kirim surat padamu tapi kabar dari angin mengatakan kalau kantor pos sedang libur. Mungkin tukang-tukang pos itu sedang dalam perjalanan pulang dari kampung halamannya. Jadi aku batalkan saja. Tapi kuketik ulang untuk kusimpan sendiri. Atau kamu mungkin juga akan membacanya, kita lihat saja nanti.  Halo? Sudah ada oreo rasa baru belum?  Coba lihat ke atas, pandang ke langit sana, kamu temukan apa?  Ya, Gadis penyuka bunga matahari. Nyanyian burung-burung itu untukmu. Siapa yang tahu kalau ternyata merekalah yang setiap tahun—diam-diam, selalu bernyanyi untukmu. Untuk pertambahan usiamu. Sementara aku tidak. Atau mungkin belum. Langit hari ini cerah sekali, ya? Jangan lupakan itu! Biru dari semesta yang luas ini selalu menemani langkah kecilmu dalam menapaki bumi. Aku tidak bilang...

Balasan Pertama; Dia Kejora

Gambar
"Langit!  Tungguin!" "Ra, stop panggil aku dengan nama itu. Namaku bukan Langit, Ra. Aku juga bukan orang yang kamu maksud." Dia diam. Sebentar kulihat pandangannya sempat kosong. Tapi tidak untuk waktu yang lama karena dia yang kukenal adalah ahli bermain peran. Aku bisa saja merasa menjadi orang yang paling mengenalinya kemudian bisa dengan mudah dia membuatku merasa kalau aku hanyalah orang asing yang mencoba mengetuk pintu rumahnya.  "Enggak mau! Kamu itu Langit buatku. Sejak hari itu dan selamanya akan terus begitu." "Keras kepala!" "Biarin. Lagian, panggilanku Rara  bukan Jora! Ngeselin!" "Memangnya salah? Salah kalau mau memanggilmu dengan julukan yang aku suka?" Gadis itu tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kutemukan di duniaku. Senyum yang selalu membuatku merasa pulang sekaligus membuatku merasa jadi manusia paling jahat untuknya. Dia terlalu tidak pantas untuk bersanding denganku. Tidak dengan ora...

(bukan) Omong Kosong Di Akhir Bulan Juni

Gambar
Tidak ada surat hari ini, biar tukang pos itu rehat sejenak dari membawa kabar angin yang sering kukirimkan untukmu itu. Hari ini, semua yang ada hanya kertas-kertas kosong yang berteriak minta dicoretkan. Sedangkan di sana, jauh di dalam sana, kata-kata berteriak meminta untuk dituliskan. Tapi aku sedang tidak ingin. Ya. Kamu benar, tapi juga sedikit salah. Aku menulis hanya ketika aku sedang ingin dan bukan egois namanya kalau menempatkan kenyamananmu di nomor satu. Selamanya bukan.  O iya, daripada bingung mau apa dan harus bagaimana, lebih baik aku bacakan untukmu coretan-coretan dari masa lalu yang sebenarnya juga nggak sepenuhnya coretan karena sejujurnya aku tidak pernah benar-benar menuliskannya. Ini bukan dongeng karena aku bukan pendongeng yang hebat. Ini juga bukan cerita utuh karena aku bukan pencerita yang andal. Kiranya ini hanyalah omongan tanpa suara. Sejatinya juga adalah tulisan tanpa kata-kata. (Kita bisa menyebutnya omong kosong, Langit. Omong koson...

Karena Berpuisi Bukan Hanya Tentang Kata-kata

Gambar
Apa kabar, Langit? Bagaimana hari-harimu selama ini? Apa waktu memperlakukanmu dengan baik? Kuharap begitu karena seharusnya memang seperti itu. Kamu terlalu baik untuk menerima yang sebaliknya, Langit. Jadi bagaimana, kamu baik, kan? O iya, sudah baca apa saja hari ini? Artikel-artikel di internet atau buku-buku fisik tentang satu dua judul? Bagaimana dengan skill menggambarmu itu, apakah masih tetap bagus dan terus kamu perbarui atau pensil warna dan kertas gambar itu malah tidak pernah kamu sentuh?  Aku ingin mengabarimu satu hal: aku sedang belajar melukis. Bukan! Bukan untuk melukis kanvas itu dengan warna jingga seperti kegemaranmu. Kamu keliru jika sempat berpikir begitu, Langit.  Aku melukis karena menurutku berpuisi bukan hanya tentang kata-kata. Ya, kamu pasti mengerti. Biru. Kamu tahu warna itu bukan favoritku, kan? Tapi sekarang aku malah sering mencelup kuasku dengan warnamu itu. Aku selalu merasa ada yang kurang kalau tidak ada warna itu di sketsa y...

Toko Bunga dan Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama kami biasa saja karena waktu itu kupikir dia cuma orang sok asik yang mengajak basa basi, semacam sok kenal sok dekat (kalau berdasarkan istilah yang kukenal sekarang). Aku ke toko itu tidak berniat untuk membeli bunga, tetapi asal masuk saja untuk menyegarkan pikiran dari riuhnya isi kepalaku. Aku baru pertama kali ke toko itu karena biasanya hanya lewat saja di depannya. Kupikir semesta memang merancang pertemuan pertama kita dengan begitu adanya. Kamis sore, di toko bunga favorit ibunya Biru. … Banyak jejeran bunga di sana. Tatanan juga cantik. Bunga yang kecil-kecil dipamerkan di dinding toko dengan pot mini putih. Ada juga yang polybag, pokoknya ketika melihat pemandangan itu, rasanya bibir ingin langsung tersenyum. Bunga-bunga di sana banyak dan cantik-cantik, cuma yang familiar bagiku hanya beberapa, misalnya mawar merah di rak paling atas yang terlihat begitu mencolok, juga anggrek bulan yang dipajang di pojok depan seakan meminta untuk dibawa pulang. Ada ...