Toko Bunga dan Pertemuan Pertama
Pertemuan
pertama kami biasa saja karena waktu itu kupikir dia cuma orang sok asik yang
mengajak basa basi, semacam sok kenal sok dekat (kalau berdasarkan istilah yang
kukenal sekarang). Aku ke toko itu tidak berniat untuk membeli bunga, tetapi
asal masuk saja untuk menyegarkan pikiran dari riuhnya isi kepalaku. Aku baru
pertama kali ke toko itu karena biasanya hanya lewat saja di depannya. Kupikir
semesta memang merancang pertemuan pertama kita dengan begitu adanya. Kamis
sore, di toko bunga favorit ibunya Biru.
…
Banyak
jejeran bunga di sana. Tatanan juga cantik. Bunga yang kecil-kecil dipamerkan
di dinding toko dengan pot mini putih. Ada juga yang polybag, pokoknya ketika
melihat pemandangan itu, rasanya bibir ingin langsung tersenyum. Bunga-bunga di
sana banyak dan cantik-cantik, cuma yang familiar bagiku hanya beberapa,
misalnya mawar merah di rak paling atas yang terlihat begitu mencolok, juga
anggrek bulan yang dipajang di pojok depan seakan meminta untuk dibawa pulang.
Ada juga bunga yang lain yang kutahu seperti bunga matahari, daisy, tanaman-tanaman
hijau, dan satu bunga yang begitu menarik perhatianku. Bunganya ditaruh dalam vas
berwarna bening berisi air, yang terletak di tengah meja bundar di luar toko.
Aku yang melihatnya dari kaca langsung saja keluar untuk bisa lebih dekat
dengan bunga itu.
Polos sekali. Putihnya memancarkan ketulusan. Kesan pertamaku terhadap sekumpulan bunga yang
punya kelopak kecil-kecil itu. Mirip bunga yang biasa kutiup—kelopaknya tipis
seperti kapas dan mudah terbang dibawa angin—yang tidak juga kutahu namanya. Aku diam saja
menikmati keindahan bunga itu. Sampai datang seorang laki-laki ber-hoodie navy yang kemudian menggeser
bangku di seberang tempatku duduk, dia duduk di sana.
“baby breath.”
Aku
memandanginya. Hah? Maksudku, dia
sedang mencari perhatian atau sekadar bergumam tidak jelas saja? Tidak bisa juga disebut bergumam karena suaranya jelas sekali.
“iya,
nama bunganya baby breath. Lo nggak
tahu, ya? pantes bengong doang daritadi.”
Dia
tertawa kecil. Seperti tawa meremehkan.
“kamu
kalau mau sombong lebih baik jangan di sini, deh. Jangan di depanku.”
“bunga
ini melambangan ketulusan, kemurnian cinta kasih. Lo pernah perhatikan
pengantin saat pelemparan bucket itu? nah, biasanya baby breath ini yang digunain di sana. Nggak Cuma kemurnian pasangan aja, sih. Bunga ini juga dimaknai sebagai
lembaran baru. Makanya sering dipakai di acara pernikahan gitu.”
Siapa sih orang ini? Siapa juga
yang minta dijelaskan? Sial, kenapa juga aku fokus mendengar penjelasannnya?
Kenapa harus merasa terganggu oleh caranya menatap bunga itu?
“aku
nggak minta kamu jelasin. Aku bisa browsing sendiri nanti di internet.”
“dasar
nggak tahu terimakasih. Gue Biru. Lo siapa?”
“manusia
yang nggak perlu kamu tahu namanya.”
Setelah
mengatakan itu, aku pergi dari sana. Membiarkan laki-laki itu berjabat tangan
dengan udara saja. Lagian, siapa juga yang ingin kenalan dengannya? Buatku, dia
terlalu banyak bicara untuk ukuran orang baru. Dan ya, aku tidak akan meminta
maaf untuk sikapku itu karena kupikir dia perlu sadar kalau nggak semua orang bisa
menerima penjelasan tanpa diminta lebih dulu. Walaupun kuakui, aku menerima
penjelasannya itu. Hanya saja dia jadi terlihat agak songong di mataku.
Setelah
memastikan kalau aku sudah agak jauh dari toko bunga itu, aku mengeluarkan note
kecil dari dalam selempang yang kubawa. Baby
breath. Aku menuliskan itu di sana karena selepas di rumah nanti, aku ingin
mencaritahu lebih dalam tentang bunga itu.
Biru. Sial, kenapa nama laki-laki itu jadi ikut tercatat di kepalaku?
Komentar
Posting Komentar