Di bulan sudah ada sinyal belum, ya? Aku ingin menelepon seseorang....

Kasih sayang beriman pada senyap.

Dalam buku yang belum lama selesai kubaca, tertulis kalimat itu, Langit. Kalimat yang benar-benar kutelaah berulang-ulang walaupun hanya dengan sekali pandang sebenarnya aku sudah paham. Tapi aku tidak ingin. Aku ingin menyelam ke dalam samudera kata itu dan tenggelam di sana, Langit. Kukira kamu mengerti atau mari kita anggap saja begitu jadi tidak perlu kujelaskan di sini.

***

Ada kabar baik apa hari ini? 

Surat-suratku yang sudah sampai di depan rumahmu, goresan cat air yang membentuk semesta impianmu, atau sekadar mendengar nyanyian burung-burung pagi hari itu? Opsi mana yang benar, Langit? Kupikir harusnya ada. 

Apa kabar, Jingga? Aku penasaran sudah sebesar apa gadis itu sekarang. Sudah melampaui pundakmu belum, ya? Soalnya Pelangi sudah. Anak-anak sekarang cepat sekali bertumbuhnya, aku cukup kaget dengan hal itu. Wajar atau bagaimana menurutmu?

Di bulan sudah ada sinyal belum, ya? Aku ingin menelpon seseorang. Memberinya kabar agar kertas-kertas di rumah bisa kulipat dan kujadikan pesawat atau kapal saja. Origami tidak membuatku puas, Langit. Kertas warna-warni itu cepat sekali habisnya. Kamu tahu aku seperti apa, kan? 

"Langit, jangan lupa nanti. Kamu harus datang!"
"Iya..iya.."
"Eh tapi nggak usah, deh."
"Kenapa?"
"Kamu nggak liat ini gerimis?"
"Ada payung, Ra.."

Apa? Kali ini pesan apa yang ingin kamu sampaikan? Aku yang harus selalu siap sedia, gerimis dalam perjalanan bukan hal yang besar, setelah gerimis akan ada pelangi, atau apa, Langit? Aku bingung. Kamu seringkali membuatku menerka-nerka sendiri maksudmu yang sebenarnya itu apa. Ya.. walaupun aku senang, sih. Senang karena mungkin hanya dengan memikirkan itu aku bisa menghadirkanmu di sana. Bingung, ya? Di mana laki-laki yang selalu mengalahkanku dalam ujian Bahasa Indonesia itu? Langit payah kalau tidak paham maksudku apa.

"Aku 86. Kamu?"

Menyebalkan! Kamu dapat nilai tertinggi dalam mata pelajaran itu, lagi. Anehnya aku tidak sedih. Yaa.. maksdku sedih, sih.. tapi sedikit. Karena melihatmu senang sudah berhasil—lagi-lagi berhasil, mengalahkanku rupanya jadi hal menyenangkan. Kamu puas sekali melihatku cemberut hari itu, ya? Hanya selisih dua, Langit. Aku hanya kalah dua angka darimu. 88, kan? Atau kamu lupa? Coba buka ijazahmu kembali dan kurasa kamu akan kaget karena aku masih belum lupa.

Bagaimana? Aku benar, kan? Aku sudah permanenkan semua yang kutahu tentangmu dalam ingatanku soalnya. 

— Ra

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(bukan) Omong Kosong Di Akhir Bulan Juni

Toko Bunga dan Pertemuan Pertama