(bukan) Omong Kosong Di Akhir Bulan Juni
Tidak ada surat hari ini, biar tukang pos itu rehat sejenak dari membawa kabar angin yang sering kukirimkan untukmu itu.
Hari ini, semua yang ada hanya kertas-kertas kosong yang berteriak minta dicoretkan. Sedangkan di sana, jauh di dalam sana, kata-kata berteriak meminta untuk dituliskan. Tapi aku sedang tidak ingin. Ya. Kamu benar, tapi juga sedikit salah. Aku menulis hanya ketika aku sedang ingin dan bukan egois namanya kalau menempatkan kenyamananmu di nomor satu. Selamanya bukan.
O iya, daripada bingung mau apa dan harus bagaimana, lebih baik aku bacakan untukmu coretan-coretan dari masa lalu yang sebenarnya juga nggak sepenuhnya coretan karena sejujurnya aku tidak pernah benar-benar menuliskannya.
Ini bukan dongeng karena aku bukan pendongeng yang hebat. Ini juga bukan cerita utuh karena aku bukan pencerita yang andal. Kiranya ini hanyalah omongan tanpa suara. Sejatinya juga adalah tulisan tanpa kata-kata. (Kita bisa menyebutnya omong kosong, Langit. Omong kosong di akhir bulan Juni. Sepertinya lebih cocok dilabelkan begitu, kan?)
"Selamat mendengarkan!", seruku meskipun aku tahu kalau tidak ada suara dalam nada-nada yang kukirimkan.
Di hari pertama pada masa yang baru…
Langit, aku tidak suka di sini! Menyebalkan sekali kakak kelas itu! harusnya di hari pertama sekolah mereka berupaya memberi kesan terbaik, kan? tapi mengapa malah sebaliknya yang kudapatkan? Aku kesal dengan mereka! Kesal karena jika sedikit saja melangggar perintah mereka maka kami harus maju dan bernyanyi di depan anak-anak lain. Lagunya mereka yang pilihkan dan vokalnya akan diganti, Langit. Menyebalkan sekali, kan? Aku juga capek! Capek karena terus berlari ke sana kemari untuk mencatat nama-nama guru. Yang ingin kubilang di sini bahwa kantor guru saat itu ada dua, Langit. Yang satu ada di atas dan satunya lagi di bawah, dekat lapangan. Belum lagi kami harus berebut satu sama lain untuk bisa membaca dengan benar daftar nama-nama itu dan kedudukan mereka baru mulai kami tuliskan di kertas. Tulisannya pun pasti berantakan saking buru-burunya. Menyebalkan, kan?
Penjajahan di hari itu masih belum selesai, Langit… masih ada banyak perintah konyol yang harus kami laksanakan. Seperti mencari semut merah di segerombolan semut hitam. Apa maksudnya memberi tugas itu coba? Untung saat itu aku masih sabar. Huh.
***
Bagaimana kabarmu? Semua masih baik-baik saja kan, di tempatmu? Kegiatanmu apa saja, Langit? Aku ingin tahu tapi pasti tidak bisa kamu beritahu, kan? sedih sih tapi mau bagaimana lagi, itu pilihanmu dan aku hanya bisa mendukungmu— walau hanya bisa dari jauh.
Di hari kedua ini, kami melaksanakan upacara perdana sebagai siswa baru. Lagi-lagi jadi pembaca tata upacara. Kamu pasti nggak kaget, kan? ya.. karena memang selalu seperti itu, sih.
Semua masih baik-baik saja sampai kami digiring untuk masuk kelas. Langit, hal menyebalkan paling menyebalkan terjadi lagi! Aku yang terakhir dipilihkan rekan, saat itu mata kami diharuskan ditutup dan maju sampai kakak kelas itu sendiri yang memapah kami ke tempat duduk. Aku masih merasa tidak ada yang janggal sampai kami disuruh membuka mata dan... booom! Posisi duduk kami ditukar dan kami sengaja dipasang-pasangkan dengan lawan jenis! Maksudku, Langit, kami juga disuruh berkenalan dengan teman duduk kami itu. Sial, aku terperangkap di situasi yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berkenalan dengan orang baru yang malah membuatku kesal. Dia bisa bertanya baik-baik, kan? Tapi ternyata aku salah karena sempat berpikir begitu. Tidak sopan sekali laki-laki itu, Langit! Dia itu bertanya atau marah-marah? Aku yang sudah kesal dari awal malah dibuat tambah kesal. Ada kakak kelas di depan kami jadi aku tidak berani membalas ketidaksopannnya itu. Aku akhirnya mengalah— membiarkan dia tahu namaku dan dia dengan masih menggunakan nada songongnya itu juga memberitahukanku namanya; Alif.
***
Hari ini aku senang sekaligus tidak senang. Senang karena setelah sekian lama menunggu akhirnya hari di mana masa penjajahan itu selesai... tiba. Tidak senang karena kami dikumpulkan di lapangan untuk mendengar ocehan panjang dari kepala sekolah. Belum lagi perkenalan masing-masing guru. Di tempatku panas, Langit. Tidak ada buku-buku yang bisa dijadikan kipas karena di hari sebelumnya kami sudah diberitahukan untuk tidak perlu membawanya. Maksudku juga, kenapa perkenalannya harus di lapangan? bisa di dalam kelas saja, kan? aku kesal juga sangat keringetan!
Siapa mereka? Ada yang ingin sok kenal denganku, Langit. Ada yang sok-sokan meneriakkan namaku dari gugus sebelah. Aku tidak suka! Aku juga geram, dari mana mereka tahu namaku? Temanku yang juga masih temanmu, Nebula, memberitahuku untuk tidak usah menghiraukan mereka tapi tentu tidak aku tidak bisa, Langit. Tidak mungkin kubiarkan mereka begitu saja. Akhirnya aku dengan sengaja minta bertukar posisi dengan orang di depanku. Aku ingin pindah ke barisan paling depan dan benar saja, mereka berhenti memanggilku. Aku lega, Langit.
Ah, bagaimana hari-harimu di sana? Ingin sekali mendengar cerita-ceritamu, Langit. Seperti waktu itu. Tapi.. nggak akan mungkin, kan?
Hmm.. kamu sudah dapat teman baru belum? Kalau aku belum. Habisnya, tidak ada yang cocok dengan karakterku. Iya iya aku paham. Kalau saat ini kamu ada di depanku maka kamu akan bilang, “Ra, kecocokan itu bukan dicari..”
Kenapa, Langit? Kenapa tidak harus dicari atau kenapa tidak boleh dicari atau memang kecocokan itu haram untuk dicari? Bagaimana dengan kita? Bukan, maksudku, aku dan kamu bagaimana? apa alasan itu masuk dalam pertimbanganmu juga? Aku tidak ingin berkenalan, Langit. Tidak dengan siapa pun. Ya.. walaupun sudah dengan si Alif itu. Aku tidak suka orang baru, Langit. Aku tidak mau pikiranku sampai sempat berpikir kalau kamu perlu digantikan. Tidak, Langit. Selamanya tidak.
Aku sudah ngantuk. Sudah dulu, ya, ceritanya?
Di hari-hari yang sunyi,
Kejora
Komentar
Posting Komentar