Balasan Pertama; Dia Kejora
"Langit! Tungguin!"
"Ra, stop panggil aku dengan nama itu. Namaku bukan Langit, Ra. Aku juga bukan orang yang kamu maksud."
Dia diam. Sebentar kulihat pandangannya sempat kosong. Tapi tidak untuk waktu yang lama karena dia yang kukenal adalah ahli bermain peran. Aku bisa saja merasa menjadi orang yang paling mengenalinya kemudian bisa dengan mudah dia membuatku merasa kalau aku hanyalah orang asing yang mencoba mengetuk pintu rumahnya.
"Enggak mau! Kamu itu Langit buatku. Sejak hari itu dan selamanya akan terus begitu."
"Keras kepala!"
"Biarin. Lagian, panggilanku Rara
bukan Jora! Ngeselin!"
"Memangnya salah? Salah kalau mau memanggilmu dengan julukan yang aku suka?"
Gadis itu tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kutemukan di duniaku. Senyum yang selalu membuatku merasa pulang sekaligus membuatku merasa jadi manusia paling jahat untuknya. Dia terlalu tidak pantas untuk bersanding denganku. Tidak dengan orang yang hanya mampu menyakitinya. Tidak dengan orang yang tahu hal itu buruk tapi tetap diam. Dia Kejora, bintang paling terang yang pernah kukenal. Gadis paling sederhana yang pernah kutemui. Yang bisa bahagia hanya dengan menyentuh halaman-halaman buku usang miliknya, yang tawanya bisa dengan mudah muncul karena menertawakan kebingungannya sendiri. Tidak ada hal yang tidak seru jika dibicarakan dengan orang yang seperti dia. Karena dia adalah Kejora. Dan akan selalu begitu.
Tuhan, bahagiakan dia. Bukan karena dia ingin. Kembalikan lagi tawa yang kuhilangkan dari semestanya itu karena aku tahu dia butuh itu. Dia butuh tertawa, terlepas dari beratnya hari-harinya. Aku titip dia.
***
Aku tentu masih ingat itu. Kamu keliru jika pernah menganggapku melupakan percakapan pertama kita. Kamu juga salah besar jika sempat menyimpulkan hanya kamu yang peduli pada momen— yang katamu cuma sejenak itu.
Kamu selalu begitu, Ra. Kamu lucu karena merasa takut akan lupa. Memangnya aku ini cuma ingatan? Kenangan, Ra. Kita adalah kenangan bagi satu sama lain. Kamu tahu semestaku nggak pernah meragukanmu, kan? Kamu tahu di dalam sana, bahkan sudut-sudut ruang itu selalu mempercayaimu, kan? Jadi kenapa harus mempertanyakan hal itu? Tapi aku nggak marah. Ini salahku dan kamu berhak— sekalipun untuk marah.
Hei, Gadis cerewet!
Kalau bukan untukmu, lalu pada siapa lagi kata-kata itu akan bermuara? Kalau bukan tentangmu, lantas apa? Siapa?
Terimakasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca ini. Sehat terus ya, Ra?
***
Aku kaget betul saat itu. Tidak menyangka saja kalau kamu mau repot-repot menghampiriku yang saat itu sedang kesepian. Aku tidak ingin ke kantin karena bekalnya sudah kumakan diam-diam saat jam pelajaran matematika. Maaf ya, Ra? Kalau boleh kutebak, kamu pasti sedang melotot tidak percaya atas hal yang sudah kuperbuat. Gimana, aku benar, kan? Jangan marah dong! Kan, aku sudah minta maaf..
Jingga, ya? Aku harus berterimakasih padanya karena ternyata topik tentangnya sudah buat kamu jadi tertarik. Iya, Ra, bukan denganku. Pelangi apa kabar, Ra? Bagaimana ya jika Jingga tahu kalau kamu punya adik yang sangat mirip denganmu? Pasti bocah cilik itu minta untuk dikenalkan. Kamu dapat itu, kan? Dapat membayangkan jika Pelangi dan Jingga menjadi teman? Bahkan hanya dengan memikirkannya, aku langsung bisa tersenyum, Ra.
Saat itu aku nggak memberitahu arti namaku karena apalah arti sebuah nama, Ra. Kamu juga pasti nggak mau peduli karena kamu sudah duluan membuatkanku nama panggilan yang nggak pernah bisa kuterima maknanya.
"Langit. Kamu itu cocok dinamai itu tahu! Soalnya kamu punya aura yang menenangkan. Sama kayak langitnya semesta, seberat apa pun hariku, kalau aku mandang ke langit, rasanya tuh kayak ringan gitu. Kebayang, kan, kamu?"
Lebay memang kamu, Ra. Selalu. Apa sih yang buat kamu, dulu, seyakin itu kalau aku adalah orang yang bisa menenangkan badaimu, hm? Aku masih nggak ngerti itu sampai sekarang.
***
Kamu aneh. Sudah gede kok nyanyinya lagu anak-anak. Yang ditahu juga cuma lagu yang itu-itu saja. Tapi karena itu kamu, aku nggak kaget. Mudah sekali menebakmu hanya dengan melihat dua bola matamu itu. Jora yang polos, Jora yang tulus, Jora yang sederhana. Itu yang kupikirkan saat pertama kali memandangmu dari jarak yang kamu bilang sedekat itu. Hanya dihalangi meja hitam penuh Tipe-X itu, kan? Tentu aku masih ingat betul, Jora..
Tebakanmu benar sekali. Sengaja kutuliskan kamu lirik lagu itu supaya kamu bisa menghafalnya. Supaya pengetahuanmu tentang musik nggak sebatas masa yang sudah lewat saja. Supaya di hari esok, kita juga bisa menyanyikannya bersama. Kalau diistilahkan, duet, Ra. Hehe.
Kalau ingin membuatmu senang, emang nggak pernah sulit, ya? Kamu kelihatan bahagia sekali saat kusuruh kamu menyimpan kertas itu untuk kamu bawa pulang—karena waktu itu bel masuk sudah dibunyikan.
Senyummu masih yang paling indah sampai detik ini. Yang paling bisa membuatku kangen juga. Sehat selalu, ya? Jangan terlalu sering makan permen karena di dalamnya banyak pemanis. Jangan keseringan makan es krim juga nanti bisa pilek. Kamu paling risih kalau disuruh pakai tisu, kan?
"Lebih nyaman sapu tangan, Langit. Tisu mah ribet."
Apa coba maksudmu mengatakan kalau tisu itu ribet. Aneh benar kamu, Ra. Apa karena harus ke kantin dulu buat beli? Atau memang kamu nggak senang dengan sesuatu yang instan? Maksudku yang sekali pakai langsung buang? Dijawab ya, Ra. Kalau sempat.
***
Aku selalu ingat, Ra. Dan tidak pernah sekalipun berniat lupa. Tapi sebaliknya, kamu mungkin yang tidak terlalu mengingatnya. Kamu lupa detailnya seperti apa. Sambil menyisir bulu-buku kemoceng yang kamu taruh di atas mejaku itu, kamu terus bertanya soal gambarku. Kenapa ini begini kenapa yang itu begitu. Kamu memangku dagumu di sisi belakang dari bangku itu. Menanti jawaban atas pertanyaanmu. Mendesakku terus untuk menjawabnya dengan segera. Lihat siapa yang lebih ingat, Ra..
Aku suka senja, Ra. itu jawaban untuk pertanyaan "kenapa langitmu selalu kamu beri warna jingga?" Gimana? Sudah puas karena sudah kujawab? Iya?
Senang sekali membaca kalimat ini: Apa.. ya.. yang membuatmu begitu menyukai jingga? Yang membuatmu selalu melukis langitmu dengan warna itu?. Kalimat ini bersuara, Ra. Aku juga nggak ngerti. Tapi kok dari sini aku bisa dengar suaramu? Suaramu yang sedang membacakan dua sajak itu. Percaya atau tidak, yang kukatakan ini benar, Ra. Eh, yang kutuliskan.
Sudah dulu ya, Ra? Masih banyak pertanyaan-pertanyaanmu yang belum kujawab, tapi aku senang membuatmu penasaran. Aku hanya ingin bilang jangan menunggu balasanku, terus lanjutkan usahamu untuk melupakanku itu karena memang seharusnya begitu.
Seseorang yang dengan lancang membalas suratmu,
Langit
Komentar
Posting Komentar