Sebuah Paket dari Pasar Lama

Ada banyak jalan menuju pasar lama tapi kamu malah memilih untuk lewat dari depan rumahku. Kenapa? Memang, aku sedang nggak ada di rumah waktu itu, tapi di tempat sahabatku, Awan. Rumah kami kebetulan bersebelahan, kami adalah tetangga. Aku mengutuk keinginanku untuk bermain kejar-kejaran di halaman rumah Awan. Karena kalau aku tidak melakukannya, kamu tidak akan melihatku dan tidak akan menghampiriku. Tidak akan ada perkenalanmu dengan sahabatku juga. Sayangnya, fakta di hari itu berbicara yang sebaliknya.

"Ra! Jora!"

Kamu kelihatan membisikkan sesuatu pada temanmu itu. Mungkin sesuatu yang mirip, "tunggu ya, mau nyamperin dia bentar." Kemudian menyuruhku ke luar tapi aku nggakmau.

Aku menggeleng.

"Sini. Sebentar doang."

Bisa tidak jangan memohon seperti itu? Kan, aku jadi tidak tega menolaknya. Akhirnya, aku memilih mendengarkan kamu. Cuma sampai gerbang, Langit. Dan kamu yang harus menghampiriku. Lewat celah-celah besi itu, semesta memberi waktu untuk kita berdua berbicara. Untuk menuntaskan yang seharusnya dituntaskan. Atau mungkin belum.

"Kamu mau nitip apa? Aku mau ke pasar lama."

Tunggu, apa maksudmu berbicara seperti itu? Bisa tidak pakai kata pembuka dulu? Aku jadi bingung harus jawab apa.

"Hei, kok bengong?"

"Eh?"

"Kaset aja gimana? Kamu mau?"

"Kalau buku bekas masih ada nggak?"

Aku tidak tahan untuk tidak menjawabmu. Kamu kelihatan sekali menunggu balasanku. Sebenarnya aku mudah saja bilang iya saat kamu menawarkan ingin membelikanku kaset, tapi, sejujurnya, aku bingung mau minta kaset apa. Soalnya di rumah sudah numpuk. Nenekku sampai-sampai ingin menjualnya, ke tukang barang rongsokan. Jelas aku marah. Aku nggak sudi kaset-kaset serial favoritku itu dijual! Akhirnya, nenek bilang, "ya sudah, tapi yang sudah rusak ini digantung di pohon, ya? Buat nakutin kelelawar." Waktu itu sebenarnya aku nggak paham tapi aku terlalu malas menanggapi. Moodku sudah telanjur beliau buat buruk.

Aku nggak pernah tahu kalau di pasar lama ada dagang buku bekas atau nggak. Yang kutahu, ibu sering membawakanku buku atau majalah sepulang beliau dari pasar. Kertasnya memang nggak sebagus yang di toko-toko buku itu. Tapi masih bisa kubaca, kok. Huruf-huruf di sana juga masih jelas. Walaupun ibu bilang kalau buku dan majalah-majalah yang dibelinya itu dilelang dengan harga murah. Mungkin orang-orang kaya itu bosan kali, ya, dengan pemandangan yang sama? Atau mereka salah memilih judul kemudian membuangnya begitu saja, ke dagang buku itu? Soalnya, aku juga punya yang sampulnya masih baru. Terus ibu menyuruhku untuk membungkusnya dengan plastik bening. Supaya barunya awet, kata beliau. Aku nurut-nurut saja waktu itu.

***

"Ra? Jadi dia orangnya?"

"Apa sih kamu? E—enggak kok! Bukan, ah!"

"Kamu nggak bakat banget bohong, Ra. Hahaha...."

Awan! Gadis itu memang menyebalkan. Padahal kan sudah kubilang untuk diam saja ditempatnya tapi tidak dia dengarkan. Awan malah mengajak Langit berkenalan. Padahal, laki-laki itu sudah mau melanjutkan langkahnya. 

Aku mungkin memang nggak ada bakat bohong, tapi aku senang bermain drama. Kamu lupa?

Ingin sekali aku bilang kalau: iya, dia orang yang membuatku jadi marah-marah nggak jelas di hari pertama kutahu kalau dia akan pergi ke tempat barunya. Dia orang yang baru saja kembali menarik-ulur perasaanku. Seseorang yang kubenci tapi selalu saja gagal kalau sudah melihatnya. Dia adalah orang yang menyuruhku melupakannya tapi dia juga yang selalu menggagalkan misiku itu. Dia adalah Langit.

Lamunanku itu dibuyarkan Awan yang mengingatkan untuk quality-time berdua.

"Udahlah, jadi atau gimana nih, ngerujaknya?"

***

"Rara! Sudah petang, kamu juga perlu mandi!"

Dengar, suara dari rumahku sudah memintaku untuk pulang. Langit biru di hari itu juga sudah berubah warna jadi jingga. Warna kesukaan Langit, kataku lirih. Apa aku harus berubah jadi warna jingga dulu baru bisa mengambil perhatiannya? Apa harus jadi teman setia senja agar selalu jadi yang paling ditunggunya?

"Iya, Nek! Bawel!" sorakku sambil cekikikan dengan Awan.

Baru saja aku selesai membuka sendal, hendak berlari masuk, tapi plastik hitam di meja itu berhasil mengusikku dengan keberadaannya. 

"Bu, ini paket dari siapa?" Teriakku dari tempatku berdiri, teras depan rumah.

"Dari temanmu tadi." Balas ibu nggak kalah keras dari arah belakang.

Untukku? Berarti ini paket buatku, kan? 

Dengan tergesa-gesa aku membukanya. Antusias sekali ingin segera tahu apa isinya. Soalnya, selain dibungkus plastik hitam, ternyata masih ada kotak dan koran lagi yang jadi lapisannya.

Buku!! Aku berteriak girang dalam hati. Senyum senang juga tanpa diminta terbit dengan sendirinya.

Saat ingin menaruh sampah dari bungkusan paket itu ke tempat sampah di pojok rumah, ada kertas yang tiba-tiba saja jatuh.

Aku nggak tahu buku bekas yang kamu inginkan itu seperti apa, jadi aku asal saja pilih judulnya. Tapi nggak asal-asalan juga sebenarnya, ada beberapa pertimbangan seperti: Jora suka main tebak-tebakan jadi mungkin buku yang disukainya juga yang begitu, Jora tidak pernah punya binatang kesukaan jadi yang kubeli bukan yang tentang hewan-hewanan, Jora juga tidak terlalu suka baca komik. Pokoknya kira-kira begitu, Ra. Selamat membaca, ya! Semoga kamu benar-benar suka :)

Setelah selesai membacanya, aku langsung kabur ke dalam. Ingin buru-buru membaca buku series yang dibelikan laki-laki penggemar warna jingga itu.

Langit!! Kamu tidak pernah gagal menyenangkanku! Dan aku benar-benar menyukai caramu itu.

Gadis yang sedang membuka kenangan lama,

Kejora

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(bukan) Omong Kosong Di Akhir Bulan Juni

Toko Bunga dan Pertemuan Pertama

Di bulan sudah ada sinyal belum, ya? Aku ingin menelepon seseorang....